ilmu pengetahuan bumi dan antariksa


JENIS-JENIS GALAKSI ALAM SEMESTA

DAN PENENTUAN POSISI BINTANG

Makalah

Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah

Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa

 

Disusun oleh :

Dede Somantri                                   :1209207017

Eneng Rusmanah                              :1209207020

Miftahul Qurratul Uyun                 :1209207047

 

Kelompok 1

PRODI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2012


KATA PENGANTAR

 

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada hadirat Allah swt, karena berkat rahmat dan karunianyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung.

Meskipun dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak menemui kesulitan dan hambatan-hambatan. Tetapi karena adanya dorongan dan motivasi dari berbagai pihak, maka makalah ini dapat diselesikan. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, yang semata-mata dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.

Harapan penulis semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri, umumnya bagi yang membaca makalah ini.

Bandung, Februari 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………….. 1
  2. Tujuan……………………………………………………………………………………………………… 1

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………….. 2

  1. Pengertian Galaksi Bimasakti……………………………………………………………………… 2
  2. Gugus Bima Sakti……………………………………………………………………………………… 5
  3. Pemebntukan Galaksi…………………………………………………………………………………. 8
  4. Jenis/Tipe Galaksi Galaksi Alam Semesta……………………………………………………… 9
  5. Fungsi Galaksi…………………………………………………………………………………………… 12

BAB III TATA KOORDINAT BOLA LANGIT DALAM MENENTUKAN POSISI BENDA LANGIT…………………………………………………………………………………………………………….. 7

  1. Koordinat Pada Permukaan Bumi
    1. Koordinat di Langit……………………………………………………………………………… 17
    2. Koordinat Panjang dan Lebar Geografi…………………………………………………… 18
  2. Tata Koordinat Bola Langit………………………………………………………………………… 19
    1. Tata Koordinat Horison………………………………………………………………………… 20
    2. Tata Koordinat Ekuator………………………………………………………………………… 22
    3. Tata Koordinat Eliptikal……………………………………………………………………….. 26

BAB IV PENUTUP……………………………………………………………………………………………. 27

  1. Simpulan…………………………………………………………………………………………………… 27
  2. Saran………………………………………………………………………………………………………… 27

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………… 28

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Allah menciptakan alam semesta ini dalam keadaan yang teratur dan rapi. Keteraturan gerakan bintang termasuk matahari, planet, satelit, komet, dan benda langit lainnya menyebabkan gerakan benda-benda tersebut dapat dipelajari dengan seksama. Dengan memahami gerakan benda-benda langit tersebut, manusia dapat memperkirakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa depan dengan akurat. Kapan terjadi matahari terbenam, kapan terjadi bulan purnama, kapan terjadi gerhana matahari dapat dihitung dengan ketelitian tinggi.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 30-34 menunjukkan bahwa salah satu potensi yang dimiliki manusia adalah berpengetahuan tentang benda-benda dialam semesta. Eksistensi benda-benda dibumi dan dilangit memiliki daya tarik bagi manusia. Daya tarik itu bervariasi, ada yang menimbulkan rasa takut dan kagum,  ada juga  yang menimbulkan rasa ingin tahu untuk mengkaji dan menggali lebih jauh  tentang hukum alam (Sunatullah)

Untuk memudahkan pemahaman terhadap posisi benda-benda langit, diperkenalkan beberapa system koordinat. Setiap system koordinat memiliki koordinat masing-masing. Posisi benda langit seperti matahari dapat dinyatakan dalam system koordinat tertentu. Selanjutnya nilai dapat diubah kedalam system koordinat yang lain melalui suatu transformasi koordinat. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai galaksi, macam-macam  system koordinat langit (horizon, ekuator, dan eliptikal), dan posisi suatu bintang.

  1. B.     Tujuan

Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan jenis-jenis galaksi, selain itu dapat menggambarkan tata koordinat horizon, ekuator dan eliptikal serta posisi suatu bintang.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Galaksi Bima Sakti

Galileo (1609), dengan teleskopnya menemukan bahwa pita cahaya difuse yang disebut kabut susu (The Milky Way) terdiri dari sejumlah besar bintang yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Kumpulan sejumlah besar bintang dalam kesatuan akibat gravitasi disebut galaksi. Di dalam buku “Jagad Raya” karangan Hakim L. Malasan (25:2000) diakatakan bahwa: pemahaman astronom terhadap galaksi tidak lepas dari perkembangan pengaetahuan galaksi Bima sakti, sebagai berikut:

  1. Thomas Wright (1750) berpendapat bahwa matahari bersama bintang-bintang lain membentuk suatu kelompok, bagaikan pulau perbintangan ditengah-tengah jagad raya.
  2. William Herschel (1784) berdasarkan penelitiannya yang sistematis menyatakan bahwa kelompok bintang-bintang dalam galaksi bima sakti membentuk piringan pipih seperti cakram. Penelitian ini dilanjutkan oleh astronom Belanda Kapteyn (1910)  yang memberikan landasan semakin kokoh akan wujud galaksi Bimasakti yang pipih tersebut.
  3. Dari studi cacah bintang dan gugus bintang yang lebih sistematis, Harold Shapley (1917) mengungkapkan bahwa galaksi Bimasakti berbentuk cakram dengan garis tengan 100 ribu tahun cahaya (30.000 parsek). Matahaari terletak di daerah tepi sekitar 30 ribu  tahun cahaya (8.500 parsek) dari pusat galaksi.

Di dalam buku “ Ilmu Kebumian dan Antariksa” (46:2008) karangan Bayong Tjasyono dikatakan bahwa: Galaksi berasal dari bahasa yunani yaitu galaxias yang berarti susu. Kata galaxias saat itu cenderung mengacu dengan galaksi kita yaitu Galaksi Bima Sakti. Galaksi adalah suatu sistem bintang-bintang, gas dan debu yang amat luas, dimana anggotanya saling mempengaruhi secara gravitasional. Matahari kita (bersama sama 9 buah planet yang mengitarinya) adalah anggota dari sebuah galaksi yang kita beri nama Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti termasuk tipe galaksi spiral dan berbentuk seperti cakram. Untuk membayangkan bagaimana kira-kira bentuk galaksi kita, kita dapat membayangkan dua buah telur mata sapi yang bagian bawahnya disatukan.

Berdasarkan perhitungan terakhir, galaksi kita diperkirakan bergaris tengah sekitar 100.000 tahun cahaya. Istilah tahun cahaya ini menggambarkan jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Dengan kecepatan 300.000 km/s, dalam waktu satu tahun cahaya akan menempuh jarak sekitar 9,5 juta juta kilometer. Jadi satu tahun cahaya adalah 9,5 juta juta km. Ini berarti garis tengah galaksi kita sekitar 100.000 x 9,5 juta juta km, atau 950 ribu juta juta km (950 diikuti oleh 15 buah nol di belakangnya). Untuk memudahkan perhitungan, maka digunakan satuan jarak adalah tahun cahaya. Dengan satuan ini, tebal bagian pusat galaksi kita sekitar 10.000 tahun cahaya.

Gambar 1. Alpha Centauri, bintang paling terang di Rasi Centaurus, terletak di langit selatan (lihat Rasi Gubug Penceng/Salib Selatan/Crux di sebelah kanannya)

Lantas di mana letak Matahari kita? Matahari terletak sekitar 30.000 tahun cahaya dari pusat Bima Sakti. Matahari bukanlah bintang yang istimewa, tetapi hanyalah salah satu dari 200 milyar buah bintang anggota Bima Sakti. Bintang bintang anggota Bima Sakti ini tersebar dengan jarak dari satu bintang ke bintang lain berkisar 4 sampai 10 tahun cahaya. Bintang terdekat dengan matahari adalah Proxima Centauri (anggota dari sistem tiga bintang: Alpha Centauri), yang berjarak 4,23 tahun cahaya. Semakin ke arah pusat galaksi, jarak antar bintang semakin dekat, atau dengan kata lain kerapatan galaksi ke arah pusat semakin besar. Bima Sakti bukanlah satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta ini.

Dalam alam semesta, ada begitu banyak sistem seperti ini, yang mengisi setiap sudut langit sampai batas yang bisa dicapai oleh telekop yang paling besar. Jumlah keseluruhan galaksi yang dapat dipotret dengan teleskop berdiameter 500 cm di Mt. Palomar mungkin sampai kira-kira satu milyar buah galaksi. Maka tidak salah jika kita mengira bahwa jika kita mempunyai teleskop yang lebih besar, kita akan dapat melihat jauh lebih banyak lagi. Sebelum kita memiliki metode pengukuran jarak yang cukup baik,para astronom mengira Bima Sakti adalah keseluruhan dari alam semesta. Bercak-bercak cahaya yang tampak di langit pada mulanya diklasifikasikan sebagai nebula (= kabut), yang juga adalah anggota Bima Sakti. Pada waktu itu, dikenal ada dua macam nebula, yaitu nebula gas dan nebula spiral.

Harlow Shapley dan George Ellery Hale, dua orang astronom yang amat berjasa membangun pengertian kita tentang galaksi. Shapley inilah yang mengembangankan metode untuk mengukur jarak yang diterapkan untuk mengukur diameter Bima Sakti. Sedangkan Hale amat besar perannya dalam pengembangan teleskop-teleskop besar, yang digunakan untuk pengamatan bintang-bintang dan nebula. Atas jasa mereka sekarang kita tahu bahwa yang semula disebut nebula spiral itu adalah galaksi yang juga seperti Bima Sakti, terdiri dari ratusan juta sampai milyaran bintang, dan berada amat jauh dari kita, jauh di luar Bima Sakti. Dan melalui jalan yang telah mereka rintis, kita menyadari bahwa Bima Sakti hanyalah satu dari begitu banyak galaksi-galaksi yang bertebaran di alam semesta yang maha luas ini.

Galaksi terdiri dari ratusan bintang (baik bintang ganda maupun bintang tunggal), Cluster, nebula, planet dan medium antar bintang. Galaksi Bimasakti berisi sekitar 100 miliar bintang adalah salah satu system kumpulan bintang yang sekarang dikenal sebagai tipe utama struktur alam semesta. Matahari yang merupakan salah satu bintang yang mengelilingi galaksinya sendiri berdasarkan garis edarnya. Galaksi Bima Sakti sebagai tempat yang menaungi sistem tata surya kita pertama kali dicetuskan oleh Democritus (450-370 SM), ahli filsuf Yunani.

Gambar 2 Galaksi Bima Sakti dari kejauhan

 

Gambar 3 Galaksi Bimasati

Awal abad XX, orang masih menganggap bahwa Bima Sakti merupakan isi alam semesta, berbentuk seperti telur dadar dengan matahari sebagai pusatnya. Leavit (1912), menemukan bahwa Awan Magellan berada cukup jauh dari Bima sakti GALAKSI LUAR (500 000 TC). Hal ini mengindikasikan bahwa ia bukanlah anggota bima sakti.  Artinya, di luar bima sakti ada sejumlah galaksi lain. Shapley (1917), meneliti distribusi gugus bola denganmemetakan gugus bola ini dalam ruang tiga dimensi. Hasilnya diperoleh bahwa gugus bola ini membentuk sistem speriodal dengan konsentrasi gugus ada di pusat sistem. Pusat sistem itu tidak dimatahari, tetapi di tengah-tengah Bima sakti dalam arah sagitarius pada jarak 25-30 ribuTC dari matahari. Pendapat ini menggeser Heliosentrik menjadi Galaktosentrik.

  1. B.     Gugus Galaksi

Kumpulan bintang pada Galaksi Bima Sakti (Milky Way) dapat kita saksikan di langit dengan mata telanjang, bentuknya seperti selendang yang terdiri atas bentangan bintang-bintang di kedua belahan langit selatang. Di seberang rasi sagitarius merupakan pusat galaksi yang tebal sekitar 10.000-15.000 tahun cahaya. pusat galaksi itu berupa kawasan yang sangat cemerlang, bentuknya mirip labu sarat dengan bintang-bintang merah besar, terselimuti kabut debu dan hanya tampak dalam gelombang infra merah atau gelombang radio. Di seputar pusat itu terdapat bintang dan bahan bintang yang terbentang dalam bentuk piring dengan garis tengah 80.000 tahun cahaya. jarak yang tidak terbayangkan itu kira-kira 772 juta milyar kilometer.

Di dalam pirinfan Galaksi Bima Sakti terdapat lengan-lengan debu dan gas gelap berhiaskan permata bintang raksasa yang gemerlap dan tidak terhitung banyaknya. Lengan itu bergerak dalam bentuk spiral menjauhi pusat galaksi, laksana pancaran bunga api mengelilingi poros roda yang diputar. Cemerlang bintang dipusat galaksi berwarna merah sedangkan cemerlang bintang dilengan galaksi berwarna biru. Matahari tidak termasuk pada kedua jenis tersebut karena matahari hanya merupakan bintang dari kelas menengah dengan keuatan cahaya 100.000 kali lebih redup dari pada bintang-bintang tercerak disekitarnya. Matahari tidak memancarkan kecerahan biru pda lengan spiral tersebut tetapi hanya memancarkan cahaya kuning lembut. Matahari terletak 30.000 tahun cahaya dari pusat galaksi atau tiga perempat jari-jari galaksi. Peredarannya di sayap salah satu lengan galaksi dengan waktu tempuh satu kali putaran 250 juta tahun cahaya.

x8u‘$t6s? “Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# %[`rãç/ Ÿ@yèy_ur $pkŽÏù %[`ºuŽÅ  #\yJs%ur #ZŽÏY•B ÇÏÊÈ

 Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (QS. Al-Furqon:61)”.

ô‰s)s9ur $uZù=yèy_ ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# %[`rãç/ $yg»¨Y­ƒy—ur šúï̍Ï໨Y=Ï9 ÇÊÏÈ

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (Nya) (QS Al-Hijr:16)”.

 

Gambar 4. Alam semesta ‘lokal’ dengan radius 400 juta tahun cahaya (Image: Tim Moore)

Seperti halnya bintang-bintang berkelompok dalam galaksi, galaksi-galaksi juga berkelompok membentuk gugus-gugus galaksi. Bima Sakti dan Andromeda beserta sekitar 25 galaksi sekitarnya (termasuk Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil) membentuk sebuah gugus galaksi yang kita namakan Rumpun Lokal (lihat juga model 3D Rumpun Lokal). Gugus galaksi pun bukannya hanya satu. Ada beribu-ribu gugus galaksi lain selain Rumpun Lokal. Misalnya saja Gugus Virgo yang beranggotakan sekitar 2.500 buah galaksi. Gugus-gugus galaksi yang saling berdekatan membentuk kelompok yang lebih besar lagi yang kita sebut superkluster. Rumpun Lokal (gugus galaksi tempat Bima Sakti berada) bersama-sama dengan gugus-gugus galaksi sekitarnya membentuk superkluster yang kita namakan Superkluster Virgo.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Milton Humason dan Edwin Powell Hubble, diperoleh kesimpulan bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauhi Bumi (yang berarti menjauhi Bima Sakti) dengan kecepatan yang berbanding lurus dengan jarak galaksi tersebut. Semakin jauh sebuah galaksi terhadap pengamat, semakin besar kecepatan menjauhnya. Hal ini teramati dari spektrum galaksi-galaksi tersebut yang mengalami pergeseran merah. Ini adalah pembuktian dari teori kosmologi yang meramalkan bahwa alam semesta mengembang. Dan galaksi-galaksi ini dibawa oleh ruang yang mengembang. Pengembangan alam semesta inilah yang menyebabkan spektrum dari galaksi-galaksi yang berada semakin jauh dari kita semakin besar pergeseran merahnya. Pergeseran merah yang disebabkan oleh ruang yang mengembang ini disebut pergeseran merah kosmis (pergeseran merah ekspansi). Dengan menganalisa spektrum cahaya galaksi, kita bisa mengetahui seberapa cepat sebuah galaksi menjauhi kita dengan melihat seberapa besar pergeseran spektrum galaksi tsb.

 

Gambar 5. Galaksi-galaksi (titik-titik di peta) tidak tersebar merata

 berkelompok membentuk gugusan galaksi

Jika sekarang yang kita amati adalah galaksi-galaksi saling menjauhi, ini berarti pada masa lalu jarak antar galaksi lebih dekat dibanding sekarang. Dan jika waktu kita telusur terus ke belakang, kita akan tiba pada waktu ketika galaksi-galaksi itu saling bersentuhan, saling bertumpuk menjadi satu. Dari sinilah lahirnya teori Dentuman Besar (Big Bang), yaitu teori terbaik yang kita miliki sekarang ini untuk menerangkan awal dari alam semesta. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta bermula dari suatu keadaan terkompresi/terpadatkan dengan kerapatan yang tak terhingga besarnya, dan mulai mengembang semenjak suatu masa tertentu yang kita namakan Dentuman Besar. Dentuman Besar ini diperkirakan terjadi sekitar 10-20 milyar tahun yang lalu. Dari situlah seluruh materi ruang dan waktu berasal, termasuk manusia.

  1. C.     Pembentukkan Galaksi

Menurut teori tradisional galaxy memulai bentuknya sebagai gas yang berbentuk awan bulat dimana bintang dan gugus bintang (titik-titik) terbentuk. Ketika awan gas yang berputar merapat menjadi cakram, bintang-bintang Halo tertinggal sebagai fossil galaxy. Sedangkan pada kehancuran diakhir Kappa, kehancuran yang terjadi sangat dahsyat, sehingga alam dewa dan Brahma tingkat rendahpun ikut hancur. Setelah semuanya habis terbakar maka gas-gas dan ion-ion sisa pembakaran pada gilirannya akan berubah 51 menjadi perangkap sinar. Luas areal gas sisa pembakaran galaksi ini bisa mencapai radius jutaan tahun cahaya (lihat gbr 5.2). Bandingkan dengan diameter galaksi yang kurang lebih seratus ribu tahun cahaya. Oleh karena sinar yang masuk terperangkap maka sebagai akibatnya tentu saja daerah yang berada di sekitar pusat gas yang merupakan sisa kehancuran Galaksi nampak sangat gelap, hal ini sesuai dengan yang dikatakan dalam Visuddhi Magga. Sekarang pada tahap ini angkasa yang diatas bersatu dengan angkasa yang dibawah dalam kegelapan mencekam yang luas.

Pada umumnya sifat benda-benda yang gelap cenderung menyerap sinar, maka sisa-sisa Galaksi yang telah berubah bentuk menjadi Ion dan gas akan kembali menyerap sinar yang dipancarkan oleh objek- objek lain yang berada di alam semesta sehingga energi yang telah dipancarkan oleh galaksi kita akan diserap oleh galaksi-galaksi lain dan demikian juga sebaliknya. Energi elektromagnetik dan energi photon yang berasal dari cahaya bisa kembali membentuk materi dan anti materi, setelah terperangkap dalam ion-ion dan gas-gas yang telah berubah menjadi materi gelap. Energi-energi yang terperangkap ini sangat berguna bagi pembentukkan galaksi baru. Gas-gas dan ion-ion yang ada di lokasi bekas kehancuran galaksi, dengan bantuan energi yang terperangkap akan kembali saling mengikat dan membentuk massa yang bertambah lama bertambah besar karena gravitasi antara dua buah massa yang cenderung saling tarik-menarik (atom-atom dan molekul juga merupakan massa, bahkan termasuk neutron, elektron, quark dan sebagainya).

  1. D.    Jenis atau Tipe Galaksi Alam Semesta

Secara garis besar, menurut morfologinya, galaksi dibagi menjadi 3 tipe, yaitu: tipe galaksi spiral, galaksi elips, dan galaksi tak-beraturan. Pembagian tipe ini berdasarkan bentuk /penampakan galaksi-galaksi tersebut. Galaksi-galaksi yang diamati dan dipelajari oleh para astronom sejauh ini terdiri dari sekitar 75% galaksi spiral, 20% galaksi elips, dan 5% galaksi tak beraturan. Namun ini bukan berarti galaksi spiral adalah galaksi yang paling banyak terdapat di alam semesta ini. Sesungguhnya yang paling banyak terdapat di alam semesta ini adalah galaksi elips. Jika kita mengambil volume ruang angkasa yang sama, kita akan menemukan lebih banyak galaksi elips daripada galaksi spiral. Hanya saja galaksi tipe ini banyak yang amat redup, sehingga amat sulit untuk diamati.

Berikut tiga tipe atau jenis galaksi yang ada di alam semesta, yaitu:

  1. Galaksi spiral, adalah tipe yang paling umum dikenal orang. Mungkin karena bentuk spiralnya yang indah itu. Galaksi kita termasuk galaksi spiral. Bagian-bagian utama galaksi spiral adalah halo, bidang galaksi (termasuk lengan spiral), dan bulge (bagian pusat galaksi yang menonjol). Anggota galaksi spiral adalah bintang-bintang muda dan tua. Bintangbintang tua terdapat pada gugus-gugus bola yang tersebar menyelimuti galaksi. Gugus bola adalah kumpulan bintang-bintang yang berjumlah puluhan sampai ratusan ribu bintang yang lahir bersama-sama, mengumpul berbentuk bola. Gugus-gugus bola inilah yang membentuk halo bersama sama dengan bintang-bintang yang tidak terdapat di bidang galaksi. Bintangbintang muda terdapat di lengan spiral galaksi yang berada di bidang galaksi. Bintang-bintang muda ini masih banyak diselimuti materi antar bintang, yaitu bahan yang membentuk bintang itu. Bulge pada galaksi spiral adalah bagian yang paling padat. Pada Bima Sakti, pusat galaksi terletak di arah Rasi Sagittarius, tetapi kita tidak dapat mengamatinya dengan mudah, karena materi antar bintang banyak menyerap cahaya yang berasal dari pusat galaksi itu.

Galaksi spiral berotasi dengan kecepatan yang jauh lebih besar dari galaksi elips. Kecepatan rotasinya yang besar itulah yang menyebabkan galaksi ini memipih dan membentuk bidang galaksi. Besar kecilnya kecepatan rotasi pada galaksi spiral ini bergantung pada massa galaksi tersebut. Kecepatan rotasi tiap bagian galaksi spiral sendiri tidaklah sama. Semakin ke arah pusat galaksi, kecepatan rotasinya semakin besar. Contoh lain galaksi spiral selain dari Bima Sakti adalah galaksi Andromeda. Andai saja kita bisa melihat galaksi Bima Sakti dari luar, kita akan melihatnya seperti bentuk galaksi Andromeda ini. Ukuran galaksi Andromeda ini sedikit lebih besar dari Bima Sakti. Galaksi Andromeda bersama-sama dengan Bima Sakti termasuk galaksi spiral raksasa. Jarak galaksi Andromeda ini sekitar 2,5 juta tahun cahaya. Untuk mengarungi jarak sejauh itu, cahaya memerlukan waktu 2,5 juta tahun. Ini berarti cahaya yang kita terima dari galaksi ini adalah cahaya yang dikirimnya 2,5 juta tahun yang lalu yang menggambarkan keadaan galaksi tersebut pada waktu itu. Jarak yang merentang antara Bima Sakti dan Andromeda sejauh 2,5 juta tahun cahaya itu dalam ukuran astronomi masih terhitung dekat. Jarak ke galaksi-galaksi lainnya jauh lebih fantastis. Bahkan ada yang sampai milyaran tahun cahaya.

Dalam klasifikasi skema hubble jenis spiral galaksi diberi daftar dengan kode S(Spiral) dan SB (Barred Spiral) tergantung dengan bentuk lengannya kemudian diikuti huruf abjad yang mengindikasikan tingkat kerapatan antar lengan spiral

dan tonjolan pada pusat galaksi. Seperti halnya sebuah bintang beserta planet-planetnya, lengan spiral galaksi selalu memutari pusat dari galaksi dengan kecepatan relatif konstan meskipun waktu yang dibutuhkan untuk mengelilinginya sangat lama. Lengan spiral merupakan daerah pada bagian galaksi yang paling padat materi atau sering disebut “Densiy Waves”. Dibagian inilah gravitasi antar bintang mulai merapat sehingga semakin nampak lengan spiral darisebuah galaksi maka semakin banyak pula jumlah bintang-bintang, dan dibagian inilah tempat dilahirkannya bintang-bintang muda. Contoh dari Galaksi jenis spiral adalah M31 (andromeda), M33 (triangulum) dan M51 (Whirlpool).

               Gambar 6. Klasifikasi Hubble pada Galaksi Spiral dan Barred Spiral

Macam-macam galaksi spiral yakni : a) Galaksi Bimasakti. b) Galaksi Dolar Perak (Silvery Coin). Dengan mata telanjang, galaksi ini tampak seperti lilin dengan panjang 30 (garis tengan bulan) dan lebar 15. dengan teleskop kecil sudah dapat dilihat intinya, di tengah-tengah kabut dan bila menggunakan teleskop 100 inci yang telah dilakukan di Observatory Mounts Wilson, ternyata galaksi Andromeda berbentuk spiral biasa. c) Galaksi Dolar Perak (Silvery Coin). Berupa galaksi spiral pipih, kira-kira sejauh 13 juta tahun cahaya. d) Galaksi Roda Biru (Blue pin Wheel). Galaksi yang bergangsing (berputar) di daerah Trianggulum, kira-kira sejauh 2 juta tahun cahaya. e) Galaksi Pusaran Air. Sebagai galaksi spiral yang terlentang dan didampingi oleh pengiring, yakni sebuah galaksi tidak teratur. f) Kabut Magellan (Magellanic Clouds). Gugus bintang ini disebut kabut Magellan, karena ditemukan oleh Magellan pada tahun 1519, berupa galaksi-galaksi yang terletak di konstelasi Dorado dan Tucan.

  1. Galaksi Eliptikal (E), adalah jenis galaksi yang diperkirakan mempunyai bentuk ellipsoidal dan terlihat lembut karena terangnya cahaya antar bintang, hampir keseluruhan bentuk fisiknya rata dan terang. Morfologi dari galaksi eliptikal ternyata sangat bermacam-macam mulai dari yang berbentuk hampir bulat seperti eplisoidal hingga hampir berbentuk datar. Dengan beraneka macamnya bentuk yang ada, hal ini ternyata sangat mempengaruhi jumlah dari banyaknya bintang yang ada didalam sebuah galaksi. Mulai dari ratusan juta bintang hingga lebih dari satu trilyun bintang.

Klasifikasi morfologi eliptikal ini telah diklasifikasikan oleh Edwin Hubble dalam skema klasifikasi Hubble. Contoh dari jenis Eliptikal galaksi adalah M87, yaitu galaksi elips raksasa yang terdapat di Rasi VirgoM32, galaksi M49 dan galaksiM59.

Gambar 7. Klasifikasi Skema Hubble pada Galaksi Eliptikal

  1. Galaksi tak-beraturan adalah tipe galaksi yang tidak simetri dan tidak memiliki bentuk khusus, tidak seperti dua tipe galaksi yang lainnya. Anggota dari galaksi tipe ini terdiri dari bintang-bintang tua (populasi II) dan muda (populasi I). Contoh dari galaksi tipe ini adalah Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil, dua buah galaksi tetangga terdekat Bima Sakti, yang hanya berjarak sekitar 180.000 tahun cahaya dari Bima Sakti. Galaksi tak beraturan ini banyak mengandung materi antar bintang yang terdiri dari gas dan debu-debu.
  1. E.     Fungsi Galaksi

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini mempunyai manfaan kemudian Dia menciptakan segala sesuatu tersebut dengan berpasang-pasangan. Karena galaksi merupakan kumpulan dar berbagai bintang, maka untuk fungsi dari galaksi kami berpedoman pada firman Allah SWT Surat Al-Fushshilat:12.

£`ßg9ŸÒs)sù yìö7y™ ;N#uq»yJy™ ’Îû Èû÷ütBöqtƒ 4‘ym÷rr&ur ’Îû Èe@ä. >ä!$yJy™ $ydtøBr& 4 $¨Z­ƒy—ur uä!$yJ¡¡9$# $u‹÷R‘‰9$# yxŠÎ6»|ÁyJÎ/ $ZàøÿÏmur 4 y7Ï9ºsŒ ㍃ωø)s? ͓ƒÍ“yèø9$# ÉOŠÎ=yèø9$# ÇÊËÈ

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui”.

Pada ayat diatas dijelsan bahwa fungsi dari bintang atau galaksi yaitu sebagai hiasan bagi langit agar dapat dipandang bagi orang-orang yang beriman, mengingat Allah dan bersyukur atas kenikmatan serta mengagungkan kekuasaan-Nya. Bahwa hanya dia yang dapat memelihara bintang-bintang tersebut, menciptakan dan memerintah segala sesuatu.

  1. F.     Fenomena Alam Terbesar di Luar Angkasa

Berbagai galaksi yang ada di alam semesta ini tidak diam melainkan akan bergerak baik secara revolusi ataupun rotasi, karena masing-masing galaksi mempunya titik pusatnya. Dengan adanya pergerakan tersebut menyebabkan terjadinya berbagai fenomena alam di luar angkasa. Fenomena tersebut antara lain:

  1. a.      Tabrakan Antar Galaksi

Ternyata galaksi pun dapat saling “memakan” satu sama lain. Yang lebih

mengejutkan adalah galaksi Andromeda sedang bergerak mendekati galaksi Bima Sakti kita. Gambar dibawah ini merupakan simulasi tabrakan Andromeda dan galaksi kita , yang akan terjadi dalam waktu sekitar 3 milyar tahun.

Gambar 7. Galaksi bertabrakan

  1. Quasar

Quasar tampak berkilau di tepian alam semesta yang dapat kita lihat. Benda ini melepaskan energi yang setara dengan energi ratusan galaksi yang digabungkan. Bisa jadi quasar merupakan black hole yang sangat besar sekali di dalam jantung galaksi jauh. Gambar ini adalah quasar 3C 273, yang dipotret pada 1979.

Gambar 8. Terjadinya Quasar

  1. Materi Gelap (Dark Matter)

Para ilmuwan berpendapat bahwa materi gelap (dark matter) merupakan penyusun terbesar alam semesta, namun tidak dapat dilihat dan dideteksi secara langsung oleh teknologi saat ini. Kandidatnya bervariasi mulai dari neotrino berat hingga invisible black hole. Jika dark matter benar-benar ada, kita masih harus membutuhkan pengetahuan yang lebih baik tentang gravitasi untuk menjelaskan fenomena ini.

Gambar 9. Terjadinya materi gelap (dark metter)

  1. Gelombang Gravitasi (Gravity Waves)

Gelombang gravitasi merupakan distorsi struktur ruang-waktu yang diprediksi oleh teori relativitas umum Albert Einstein. Gelombangnya menjalar dalam kecepatan cahaya, tetapi cukup lemah sehingga para ilmuwan berharap dapat mendeteksinya hanya melalui kejadian kosmik kolosal, seperti bersatunya dua black hole seperti pada gambar di atas. LIGO dan LISA merupakan dua detector yang didesain untuk mengamati gelombang yang sukar dipahami ini.

Gambar 10. Gelombang Gravitasi (Gravity Waves)

  1. Energi Vakum Fisika Kuantum menjelaskan kepada kita bahwa kebalikan dari penampakan, ruang kosong adalah gelembung buatan dari partikel subatomik “virtual” yang secara konstan diciptakan dan dihancurkan. Partikel-partikel yang menempati tiap sentimeter kubik ruang angkasa dengan energi tertentu, berdasarkan teori relativitas umum, memproduksi gaya antigravitasi yang membuat ruang angkasa semakin mengembang. Sampai sekarang tidak ada yang benar-benar tahu penyebab ekspansi alam semesta.

Gambar 11. Energi vakum

  1. Mini Black Hole

Jika teori gravitasi ”braneworld” yang baru dan radikal terbukti benar, maka ribuan mini black hole tersebar di tata surya kita, masing-masing berukuran sebesar inti atomik. Tidak seperti black hole pada umumnya, mini black hole ini merupakan sisa peninggalan Big Bang dan mempengaruhi ruang dan waktu dengan cara yang berbeda.

Gambar 12. Mini Black Hole


 

BAB III

TATA KOORDINAT BOLA LANGIT

DALAM MENENTUKAN POSISI BENDA LANGIT

Posisi suatu objek di langit dapat didefinisikan sebagai posisi benda pada koordinat  bola (system koordinat bola langit).

X

(A-X-A). Lingkaran besar yang melewati titik-titik kutub U dan S dinamakan lingkaran vertical yang melewati suatu titik acuan A, inilah yang menjadi acuan untuk menentukan posisi suatu objek sebuah objek langit.

 

  1. A.  Koordinat pada muka Bumi
    1. a.      Koordinat di langit

Penentuan tempat – tempat di langit

a)      Kutub utara langit

Karena dibumi itu tidak ada titik yang kekal tempatnya terhadap bola langit, atau hanya bintang – bintang sejati saja yang tak berpindah – pindah tempatnya, maka diambilah suatu titik dekat bintang polaris dari rasi bintang Ursa minor, yang hampir – hampir tidak mengikuti perputaran sehari – hari bintang sejati lainnya, untuk ditetapkan sebagai titik pangkal. Peredarn semu ini disebabkan oleh rotasi bumi pada porosnya. Dan titik yang tak ikut berputar ini disebut kutub utara langit

b)      Kutub selatan langit

Adalah titik yang dapat dicari dengan rasi bintang layang – layang bintang Zuiderkruis, orang Jawa menyebutnya dengan nama bintang Gubug Penceng.

c)      Sumbu Bumi

Garis khayal yang menghubungkan kedua kutub disebut sumbu langit dan nampaknya seluruh bola langit dengan bintang – bintangnya dan matahari berputar dari timur ke barat karena rotasi bumi, dari barat ketimur (sebaliknya).

d)   Khatulistiwa langit

Untuk menentukan letak suatu bintang sebelah utara atau selatan (deklinasi), ditarik lingkaran (tegak lurus) pada sumbu langit yang disebut khatulistiwa langit yang membagi dua sama besar bola langit belahan selatan dengan layang – layang dan belakang utara dengan bintang polaris tadi

e)    Absis dan Ordinat

1)      Ordinat

Untuk mengetahui letak suatu titik, begitu pula sesuatu bintang harus diketahui absis dan ordinatnya ordinat bintang disebut deklinasi utara, dihitung dari 00 – 900 utara (positif) diatas bidang khatulistiwa langit 00 - 900 selatan (negatif). Jadi titik ordinat itu terletak deklinasi yang sejajar dengan khatulistiwa langit.

2)      Absis

Ordinat saja tidak dapat menentukan letak bintang, karena bintang – bintang yang berdeklinasi 200 utara itu misalnya, tak terhitung banyaknya, ialah tiap titik disepanjang lingkaran deklinasi 200 utara.

  1. b.      Koordinat panjang dan lebar geografi

Koordina ini berguna untuk menentukan kota tempat di bumi, digunakan panjang geografi (absis) dan geografi (ordinat).

a)      Garis-garis lintang

Garis – garis (lingkaran) yang melintang dari barat ke timur disebut garis lingkaran lintang. Garis (lingkaran)  besar pada bola bumi membagi dua bagian sama besar dan bidangnya melalui pusat bumi tegak lurus pada sumbu bumi disebut equator / Khatulistiwa . Khatulistiwa membagi bumi kedalam dua belahan yang besar yaitu belahan bumi bagian utara dan belahan bumi bagian selatan.

b)      Garis-garis bujur

Disamping lingkaran lintang tersebut melukiskan lingkaran yang membujur dari kutub utara kekutub selatan. Lingkaran bujur atau Lingkaran Meridian. Lingkaran – lingkaran bujur ini merupakan lingkaran – lingkaran yang bentuknya separuh dari lingkaran bujur dapat juga disebut garis Meridian atau garis Bujur. Maka dari itu disebut pula meridian Greenwich. Meridian dapat dibagi atas dua bagian :

(1)   Dari 0 0 sampai 1800 ke arah timur meridian /  Bujur Timur (B.T)

(2)   Dari 0 0 sampai 1800 ke arah barat meridian / Bujur Barat (B.B)

c)         Panjang geografi

Panjang gegrafi adalah busur khatulistiwa di hitung dari 00 sampai 1800, disebut juga garis Bujur, dan digunakan untuk menentukan letak kota/ tempat di sebelah barat atau disebelah timur.

d)        Lebar geografi

Lebar geografi adalah garis lingkaran bumi yang sejajar dengan khatulistiwa, yang dihitung dari 00 di khatulistiwa sampai 900 dikutub bumi; juga disebut garis lintang, dan digunakan untuk menentukan letak kota.

e)         Bukti lebar geografi sama dengan tinggi kutub

Bukti Lebar Geografi sama dengan tinggi kutub artinya, jika kutub langit diketahui, maka lebar geografi atau lintang kota dapat diketahui. Sedangkan Tinggi Kutub merupakan busur dari lengkung langit dihitung dari 00 sampai 900 , mulai dari kutub sampai horison.

f)       Penggunaan

Dalil “Lebar geografi = tinggi kutub ” ini digunakan para pelaut penjelajah untuk mengetahui dimana atau pada lintang mana ia berada. Misalnya berada di  tengah – tengah laut atau padang pasir ini hanya dapat berlaku di belahan bumi utara saja dengan bintang polaris yang nampak, sedangkan dibelahan selatan harus digunakan bintang Alfa Centauri (α).

g)      Lintang tengah dan meridian tengah

Suatu daerah atau negara dapat ditentukan paralel tengah / lintang tengahnya dan merdian tengah / bujur tengahnya.

 

  1. B.     Tata koordinat Bola langit

Koordinat langit diterjemahkan sebagai nilai dalam suatu tatanan referensi yang dipergunakan untuk menentukan kedudukan benda langit dalam bola langit. Sedangkan bola langit adalah sebuah bola dengan jari-jari tak terhingga dan berpusat di pusat bumi, dari bumi semua benda langit diproyeksikan ke bola langit. Ia adalah lingkaran khayal yang merupakan batas pandangan mata pengamat ke angkasa tempat benda-benda langit yang seolah-olah menempel pada langi. Sedangkan dalam keterangan lain disebutkan bahwa bola langit adalah ruangan yang maha luas yang berbentuk bola yang dapat kita lihat sehari-hari tempat matahari, bulan, dan bintang-bintang bergeser setiap saat. Bintang-bintang itu dilihat seolah-olah berserak disebuah kulit bola sebelah dalam, walaupun letak sesungguhnya sangat berjauhan.

Koordinat yang diperlukan untuk menggambarkan posisi suatu benda langit disebut koordinat bola langit. Untuk  menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata koordinat yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit tersebut. Tata koordinat tersebut terdiri dari tata koordinat horison, tata koordinat ekuator, dan tata koordinat ekliptika. Tiap-tiap tata koordinat tentunya memiliki cara penggunaan sistem yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut. Dengan demikian penggunaan suatu sistem koordinat bergantung pada hasil yang kita inginkan, apakah hasil yang didapat ingin digunakan untuk waktu sesaat atau untuk waktu yang lama dan dapat dipakai secara universal.

Dalam menentukan posisi benda langit tentunya kita harus menentukan terlebih dahulu tempat atau benda yang akan menjadi acuan dalam pengamatan sehingga, kita dapat dengan mudah dala menentukan posisi benda yang akan diteliti. Tentunya dari ketiga jenis koordinar bola langit yang akan dijelaskan untuk titik acuan di tentukan oleh pengamat itu sendiri, artinya tergantung posisi sipengamat itu sendiri berada di daerah mana dan disebelah mana.

Berikut ini akan dijelaskan macam-macam tata koordinat bola langit.

  1. a.      Tata Koordinat Horizon

Tata koordinat ini adalah tata koordinat yang paling sederhana dan paling mudah dipahami. Tetapi tata koordinat ini sangat terbatas, yaitu hanya dapat menyatakan posisi benda langit pada satu saat tertentu, untuk saat yang berbeda tata koordinat ini tidak dapat memberikan hubungan yang mudah dengan posisi benda langit sebelumnya. Karena itu menyatakan saat benda langit pada posisi itu sangat diperlukan dan tata koordinat lain diperlukan agar dapat memberikan hubungan dengan posisi sebelum dan sesudahnya.

Pada tata koordinat horizon, letak bintang ditentukan hanya berdasarkan pandangan pengamat saja. Tata koordinat horizon tidak dapat menggambarkan lintasan peredaran semu bintang, dan letak bintang selalu berubah sejalan dengan waktu. Namun, tata koordinat horizon penting dalam hal pengukuran adsorbsi cahaya bintang.

Gambar:14

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat horizon adalah:

  1. Bujur suatu bintang dinyatakan dengan azimut (Az). Azimut umumnya diukur dari selatan ke arah barat sampai pada proyeksi bintang itu di horizon, seperti pada gambar azimut bintang adalak 220°. Namun ada pula azimut yang diukur dari Utara ke arah timur, oleh karena itu sebaiknya Anda menuliskan keterangan tentang ketentuan mana yang Anda gunakan.
  2. Lintang suatu bintang dinyatakan dengan tinggi bintang (a), yang diukur dari proyeksi bintang di horizon ke arah bintang itu menuju ke zenit. Tinggi bintang diukur 0° – 90° jika arahnya ke atas (menuju zenit) dan 0° – -90° jika arahnya ke bawah.

Letak bintang dinyatakan dalam (Az, a). Setelah menentukan letak bintang, lukislah lingkaran almukantaratnya, yaitu lingkaran kecil yang dilalui bintang yang sejajar dengan horizon (lingkaran PQRS).

Disetiap tempat di permukaan Bumi mempunyai lingkaran meridian yang berbeda-beda tergantung bujur tempat itu (yang berbujur sama mempunyai lingkaran meridian yang sama). Pada dasarnya garis Utara-Selatan adalah perpanjangan sumbu Bumi yang melalui kutub Utara dan kutub Selatan. Titik Utara di Kutub Utara sering disebut Titik Utara Sejati (True North), dan sebaliknya Titik Selatan Sejati (True South), yang mana letaknya berbeda dengan Kutub Utara Magnetik dan Kutub Selatan Magnetik. Apabila dilihat dari zenith maka dengan putaran searah jarum jam akan mendapatkan arah Utara, Timur, Selatan dan Barat dengan besar perbedaan sudutnya sebesar 90o.

Dengan mengenal istilah tersebut akan memudahkan kita dalam memahami tata koordinat horison dengan ordinatnya yaitu, Azimuth dan Tinggi (A,h). Tinggi benda langit dapat digambarkan pada bola langit dengan membuat lingkaran besar yang melalui zenith, benda langit itu dan tegak lurus pada horison (lingkaran vertikal), diukur dari horison dengan nilainya 0o-90o.

Untuk menyatakan Azimuth terdapat 2 versi:

  • Versi pertama menggunakan titik Selatan sebagai acuan.
  • Versi kedua yang dianut secara internasional, diantaranya dipakai pada astronomi dan navigasi menggunakan titik Utara sebagai acuan, berupa busur UTSB. Kedua versi tersebut menggunakan arah yang sama, yaitu jika dilihat dari zenith arahnya searah perputaran jarum jam yang nilainya 0o-360o.

Cara melukiskan koordinat bola langit, yakni :

  1. Buat lingkaran dengan jari-jari tertentu
  2. Buat garis tengah horizon dan vertical yang melalui pusat lingaran
  3. Buatlah lingkaran besar horizontal yang melalui garis horizontal
  4. Buatlah arah mata angin pada bidang horizontal.

Keuntungan dalam penggunaan sistem koordinat horison yaitu pada penggunaannya yang praktis, sistem koordinat yang sederhana dan secara langsung dapat dibayangkan letak objek pada bola langit. Namun tedapat juga beberapa kelemahan pada Sistem koordinat ini, yaitu pada tempat yang berbeda maka horisonnya pun berbeda serta terpengaruh oleh waktu dan gerak harian benda langit.

  1. b.      Tata Koordinat Ekuator

Tata koordinat ini merupakan salah satu tata koordinat yang sering digunakan dalam astronomi. Sistem koordinat ini dapat menyatakan letak benda langit dalam skala waktu relatif panjang. Sekalipun perubahan unsur-unsur koordinatnya relatif kecil terhadap waktu. Dalam setiap pembahasan sistem koordinat benda langit, setiap benda langit selalu dipandang terproyeksi pada suatu bidang bola khayal yang digambarkan sebagai bola langit. Bola yang memuat bidang khayal tersebut disebut bola langit. Ukuran bola Bumi diabaikan terhadap bola langit sehingga setiap pengamat di muka Bumi dianggap berada di pusat bola langit.

Tata koordinat ekuator ini juga merupakan sistem koordinat yang paling penting dalam astronomi. Letak bintang-bintang, nebula, galaksi dan lainnya umumnya dinyatakan dalam tata koordinat ekuator. Pada tata koordinat ekuator, lintasan  bintang di langit dapat ditentukan dengan tepat karena faktor lintang geografis pengamat (φ) diperhitungkan, sehingga lintasan edar bintang-bintang di langit (ekuator Bumi) dapat dikoreksi terhadap pengamat. Sebelum menentukan letak bintang pada tata koordinat ekuator, sebaiknya kita mempelajari terlebih dahulu sikap bola langit, yaitu posisi bola langit menurut pengamat pada lintang tertentu.

Gambar:15 koordinat ekuator

Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi kutub (φ) . Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai φ = ϕ, dengan φ diukur dari Selatan ke KLS jika pengamat berada di lintang selatan dan φ diukur dari Utara ke KLU jika pengamat berada di lintang utara. Jadi untuk pengamat pada ϕ = 90° LU lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon,  dan kutub lintang utara berimpit dengan zenit, sedangkan pada ϕ = 90° LS lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon,  dan kutub lintang selatan berimpit dengan zenit

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat ekuator adalah:

  1. Bujur suatu bintang dinyatakan dengan sudut jam atau Hour Angle (HA). Sudut jam menunjukkan letak suatu bintang dari titik kulminasinya, yang diukur dengan satuan jam (ingat,1h = 15°). Sudut jam diukur dari titik kulminasi atas bintang (A) ke arah barat (positif, yang berarti bintang telah lewat kulminasi sekian jam) ataupun ke arah timur (negatif, yang berarti tinggal sekian jam lagi bintang akan berkulminasi). Dapat juga diukur dari 0° – 360° dari titik A ke arah barat.
  2. Lintang suatu bintang dinyatakan dengan deklinasi (δ), yang diukur dari proyeksi bintang di ekuator ke arah bintang itu menuju ke kutub Bumi. Tinggi bintang diukur 0° – 90° jika arahnya menuju KLU dan 0° –  - 90° jika arahnya  menuju KLS. Dapat kita lihat bahwa deklinasi suatu bintang nyaris tidak berubah dalam kurun waktu yang panjang, walaupun variasi dalam skala kecil tetap terjadi akibat presesi orbit Bumi. Namun sudut jam suatu bintang tentunya berubah tiap jam akibat rotasi Bumi dan tiap hari akibat revolusi Bumi. Oleh karena itu, ditentukanlah suatu ordinat baku yang bersifat tetap yang menunjukkan bujur suatu bintang pada tanggal 23 September pukul 00.00, yaitu ketika titik Aries, tepat berkulminasi atas pada pukul 00.00 waktu lokal (vernal equinox). Ordinat inilah yang disebut asensiorekta (ascencio recta) atau kenaikan lurus, yang umumnya dinyatakan dalam jam. Faktor gerak semu harian bintang dikoreksi terhadap waktu lokal (t) dan faktor gerak semu tahunan bintang dikoreksi terhadap Local Siderial Time (LST) atau waktu bintang, yaitu letak titik Aries pada hari itu. Pada tanggal 23 September LST-nya adalah pukul 00h, dan kembali ke pukul 00h pada 23 September berikutnya sehingga pada tanggal 21 Maret, 21 Juni, dan 22 Desember LST-nya berturut-turut adalah 12h, 18h, dan 06h. Jadi LST dapat dicari dengan rumus :

Adapun hubungan LST, HA00 dan asensiorekta (α)

LST = α + HA00

Dengan t adalah waktu lokal. Misal jika HA00 = +3h, maka sudut jam bintang pada pukul 03.00 adalah +6h (sedang terbenam). Ingat, saat kulminasi atas maka HA = 00h. Dengan demikian didapatkan hubungan komplit bujur pada tata koordinat ekuator

LST + t = α + HAt

Patut diingat bahwa HA00 ialah posisi bintang pada pukul 00.00 waktu lokal, sehingga posisi bintang pada sembarang waktu ialah:

HAt = HA00 + t

Dengan α ordinat tetap, HAt ordinat tampak, LST koreksi tahunan, dan t koreksi waktu harian. Contoh pada gambar di bawah. Pada tanggal 21 Maret, LST-nya adalah 12h. Jadi letak bintang R dengan koordinat (α, δ) sebesar (16h,-50º)akan nampak di titik R pada pukul 00.00 waktu lokal. Perhatikan bahwa LST diukur dari titik A kearah barat sampai pada titik Aries. Tampak bintang R berada pada bujur (HA00) -60° atau -4 jam. Jadi, bintang R akan berkulminasi atas di titik Ka pada pukul 04.00 dan terbenam di horizon pada pukul 10.00. Asensiorekta diukur dari titik Aries berlawanan pengukuran LST sampai pada proyeksi bintang di ekuator. Jadi telah jelas bahwa.

HA = LSTα

Dengan -xh = 24hxh

Gamabar 16

Lingkaran kecil KaKb merupakan lintasan gerak bintang, yang sifatnya nyaris tetap. Untuk bintang R, yang diamati dari ϕ = 40° LS akan lebih sering berada pada di atas horizon daripada di bawah horizon. Pembahasan lebih lanjut pada bagian bintang sirkumpolar. Tinggi bintang atau altitude, yaitu sudut kedudukan suatu bintang dari horizon dapat dicari dengan aturan cosinus segitiga bola. Tinggi bintang, a, yaitu

a = 90° - ζ

Dimana jarak zenit (ζ) dirumuskan dengan

cos ζ = cos(90° – δ) cos(90° – ϕ) + sin(90° – δ) sin(90° – ϕ) cosHA

  1. c.       Tata koordinat Eliptikal

Ekliptika dan equator / khatulistiwa langit saling berpotongan membentuk sudut 23,50 pada horizon dengan titik perpotongan  sebagai titik musim semi (Aries)dan titik musim rontok (R). Untuk menentukan posisi benda langit pada tata koordinat ekliptika yaitu dengan menggunakan pangjang astronomi dan lebar astronomi.

Gambar 17 koordinat eliptika

Dari penjelasan di atas dapat ke tiga koordinat bola langit tersebut dapat ditentukan perbedaannya sebagai berikut:

Sistem Bidang Acuan Arah Acuan Lintang Bujur
Horison Bidang Horison Titik Utara Tinggi: h

+ :kearah Zenit

- kearah Nadir

Azimut : A

Ke Timur

0-3600

Ekuator Ekuator Langit Vernal Equnox Deklinasi:

+: ke arah KLU

-: kea rah KLS

 

Asensioreta:

Ke Timur 0-24 jam

Eliptikal Bidang Eliptikal Vernal Equnox

Lintang:

+: kearah KEU

- : kearah KES

Bujur : l

ke Timur 0-360o

 


 

BAB IV

PENUTUP

  1. A.    Simpulan

Kumpulan sejumlah besar bintang dalam kesatuan akibat gravitasi disebut galaksi. Galaksi terdiri dari ratusan bintang (baik bintang ganda maupun bintang tunggal), Cluster, nebula, planet dan medium antar bintang. Galaksi berdasarkan bentuk dibedakan menjadi tiga yaitu galaksi eliptikal (bentuknya elips), galaksi spiral, dan galaksi tidak beraturan.

Untuk memudahkan dalam menentukan posisi dan letak suatu benda langit maka diperlukan yang sebut dengan koordinar bola langit. Koordinar bola langit ini dibagi menjadi tiga yaitu koordinat Horizon, koordinat Ekuator, dan koordinat Eliptikal. Dari ketiga jenis koordinat bola langit ini yang sering digunakan yaitu koordinat ekuator sehingga disebut koordinat geosentrik. Koordinat horizon mudah untuk dilukis tetapi hanya dapat digunakan pada waktu dan tempat tertentu saja (dalam kurun waktu yang pendek). Koordinat ekuator dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama, tetapi cara melukisnya cukup rumit.

  1. B.     Saran

Dengan semakin canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi, para astronom semakin terus melakukan penelitian mengenai berbagai benda yang ada dilangit. Oleh sebab itu, kita sebagai mahasiswa cukup dengan banyak menggali informasi mengenai keberadaan benda-benda langit. Tentunya kita juga perlu mengetahui dan memahami serta mampu menggambarkan posisi benda langit tersebut berada.

DAFTAR PUSTAKA

 

An-Najjar, Zaghlul 2000. Pembuktian Sais dalam Sunnah. Jakarta: Ammzah

Fabian. Candra. 2002. Kosmologi Stady Struktur Asal Mula Alam Semesta

L. Malasan, Hakim 2000. Jagad Raya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: The Golden Web LTD

Tjasyono, Bayong. 2008. Ilmu Kebumian dan Kebumian. Departemen Pendidikan Nasional:Rosda.

Winardi Sutantyo. 1984. Astrofisika, Mengenal Bintang. Bandung: Penerbit ITB

Astronomy for amateurs, 1969 oleh James Muirden (anggota royal astronomical society), diterbitkan oleh Cassel & Co Ltd

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: